Baca Naskah Lengkap
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 13 No 3 (2021).
2.789 Dilihat 1.312 Diunduh
Indonesia memiliki keadaan geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang rawan terhadap bencana dengan frekuensi yang relatif tinggi, sehingga memerlukan penanganan bencana yang sistematis, terpadu, serta terkoordinasi. Adapun bencana yang terjadi hingga tahun 2020 didominasi oleh bencana alam hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan sampai kebakaran hutan dan lahan (BNPB, 2021). Tujuan dari kajian ini ialah untuk mengidentifikasi model inovasi pelayanan Pemerintah Daerah pada mitigasi bencana. Kajian ini memakai metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu studi kepustakaan, FGD, dan wawancara terhadap pihak-pihak terkait inovasi mitigasi bencana di lokasi kajian. hasil temuan lapangan memberikan gambaran bahwa inovasi SDIS yang diterapkan oleh Kabupaten Sleman termasuk inovasi terbaik dalam penanganan erupsi Gunung berapi sebab inovasi ini telah diinisiasi Dari tahun 2016 dan terus mengalami penyempurnaan hingga kini. di Kota Semarang khusus untuk bencana banjir, alat Early Warning System yang dipasang di beberapa titik sebagai inovasi terbaik dalam penanganan banjir meskipun ada kesulitan pemasangan di titik tertentu karena kontur geografis yang tidak memungkinkan. sementara buat Kabupaten Sumedang, inovasi mereka melalui SITABAH masih perlu pengembangan lebih lanjut untuk menjadi inovasi terbaik pada mitigasi tanah longsor, karena adanya keterbatasan dalam sarana prasarana serta sdm. Selain itu aplikasi juga masih bersifat satu arah. dari ketiga model inovasi mitigasi kebencanaan tersebut, inovasi SDIS adalah inovasi yang telah berhasil diterapkan oleh BPBD Kabupaten Sleman. Khususnya pada fitur “jarak saya Merapi” yang dapat diakses secara daring, sehingga model inovasi ini bisa direplikasi pada daerah lain.
Regional Government Service Innovation Model in Disaster Mitigation
Indonesia has a geographical, geological, hydrological, and demographic situation prone to disasters with a relatively high frequency, thus requiring systematic, integrated, and coordinated disaster management. The disasters that occurred until 2020 were dominated by hydro-meteorological natural disasters such as floods, landslides, hurricanes, droughts to forests, and land fires (BNPB, 2021). The purpose of this study is to identify innovation models for regional government services in disaster mitigation. This study uses a qualitative descriptive method with data collection techniques, namely literature studies, FGDs, and interviews with related disaster mitigation innovations at the research location. The field findings illustrate that the SDIS innovation implemented by Sleman Regency is among the best innovations in handling volcanic eruptions. This innovation has been initiated since 2016 and continues to be refined. In the city of Semarang, specifically for flood disasters, the Early Warning System tool was installed at several points as the best innovation in flood management. However, difficulties were installing it at certain points due to geographical contours that were impossible. Meanwhile, for Sumedang Regency, their innovation through the SITABAH application still needs further development to become the best innovation in landslide mitigation due to limitations in infrastructure and human resources. In addition, the application is still one-way. Of the three disaster mitigation innovation models, the SDIS innovation is an innovation that has been successfully implemented by the Regional Disaster Management Agency of Sleman Regency. Especially on the "My distance and Merapi" feature, which can be accessed online, this innovation model can be replicated in other areas.
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 13 No 3 (2021).
Hak Cipta (c) 2021 Penulis. Artikel ini dilisensikan di bawah CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.