Baca Naskah Lengkap
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 17 No 3 (2025).
437 Dilihat 517 Diunduh
Tingkat kesehatan masyarakat merupakan indikator penting untuk mengevaluasi keberhasilan pembangunan sektor kesehatan. Di Kabupaten Sukabumi, yang bercirikan geografi dan kondisi sosial-ekonomi yang beragam, terdapat variasi yang signifikan pada Indeks Derajat Kesehatan Masyarakat (KPR) di berbagai wilayah. Studi ini menggunakan Analisis Komparatif Kualitatif Crisp-Set (csQCA) dengan perangkat lunak Tosmana QCA untuk mengeksplorasi kombinasi faktor-faktor yang memengaruhi hasil KPR. Data dikumpulkan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Badan Pusat Statistik, dan sumber sekunder lainnya. Tujuannya adalah untuk menganalisis perbedaan regional dalam kesehatan masyarakat dan mengidentifikasi serangkaian faktor yang mendorong tingkat KPR yang tinggi atau rendah. Hasil menunjukkan bahwa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (KPR) dan sanitasi merupakan penentu paling konsisten dari KPR yang tinggi, bahkan dalam konteks dengan fasilitas dan anggaran kesehatan yang terbatas. Sebaliknya, peningkatan infrastruktur kesehatan dan sumber daya keuangan hanya efektif jika dipadukan dengan penguatan KPR dan praktik sanitasi. Menariknya, kemiskinan ekstrem tidak selalu menghambat pencapaian KPR yang tinggi jika perilaku sehat dan sanitasi lingkungan telah mapan. Di sisi lain, daerah dengan PHDI rendah biasanya mengalami kombinasi perilaku tidak sehat dan sanitasi yang buruk, meskipun memiliki infrastruktur dan pendanaan yang memadai. Wawasan ini menyoroti perlunya strategi intervensi yang ditargetkan dan spesifik untuk setiap daerah, yang memprioritaskan peningkatan perilaku hidup sehat dan sanitasi, serta mengoptimalkan fasilitas kesehatan dan dukungan keuangan.
Analysis of the Diversity of Health Status Indices in Sukabumi Regency Using Qualitative Comparative Analysis (QCA)
The public health level is a crucial indicator for evaluating the success of health sector development. In Sukabumi Regency, characterized by diverse geography and socio-economic conditions, there are notable variations in the Public Health Degree Index (PHDI) across regions. This study employs Crisp-Set Qualitative Comparative Analysis (csQCA) using Tosmana QCA software to explore the combinations of factors that influence PHDI outcomes. Data were collected from the Sukabumi District Health Office, the Central Statistics Agency, and other secondary sources. The aim is to analyze regional differences in community health and identify the sets of factors that drive high or low PHDI levels. Results show that Clean and Healthy Living Behaviors (CHLB) and sanitation are the most consistent determinants of high PHDI, even in contexts with limited health facilities and budgets. Conversely, improvements in health infrastructure and financial resources are effective only when paired with strengthened CHLB and sanitation practices. Interestingly, extreme poverty does not necessarily hinder achieving a high PHDI if healthy behaviors and environmental sanitation are well-established. On the other hand, areas with low PHDI typically suffer from a combination of unhealthy behaviors and poor sanitation, despite having adequate infrastructure and funding. These insights highlight the need for targeted, area-specific intervention strategies that prioritize enhancing healthy living behaviors and sanitation, along with optimizing health facilities and financial support.
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 17 No 3 (2025).
Hak Cipta (c) 2025 Penulis. Artikel ini dilisensikan di bawah CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.