Baca Naskah Lengkap
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 16 No 3 (2024).
2.566 Dilihat 1.090 Diunduh
Terlepas dari potensi manfaatnya bagi umat manusia, ekonomi hijau gagal memastikan keseimbangan yang optimal dan justru menjadi perhatian politik. Krisis global mencakup bencana iklim dan ditandai dengan perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, deforestasi besar-besaran, tantangan administratif, dan bentuk-bentuk kerusakan ekologis lainnya. Hal ini memperburuk keprihatinan terhadap lingkungan, masyarakat, dan keseimbangan ekonomi. Namun, pemahaman publik mengenai tata kelola hijau masih kurang di Asia Tenggara, yang dianggap sebagai hambatan potensial bagi konsensus publik mengenai kepentingan yang bergantung pada hutan. Liputan media mengenai tata kelola hutan dianggap sebagai sumber informasi penting dalam membentuk opini publik karena menghasilkan representasi digital. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki keberadaan tata kelola ekonomi hijau dalam pembangunan berkelanjutan dalam artikel berita daring melalui analisis isi pemberitaan media. Selama dua tahun (01/01/2020 - 01/01/2022), kami mengumpulkan artikel berbahasa Indonesia dengan menggunakan fitur NCapture pada NVivo 12 Plus, yang secara khusus difokuskan pada topik “Lingkungan Hidup.” Sebanyak 191 artikel nasional dan regional memberikan liputan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa media regional Kabapulu.co.id mendominasi tingkat pemberitaan tentang wacana ekonomi hijau di Maluku Utara dan kelima media daring tersebut sama-sama menonjol dalam hal indeks efisiensi sumber daya alam. Hal ini tidak mengkonfirmasi bahwa pengelolaan lingkungan yang dilakukan di Maluku Utara telah sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan, mengingat sebagian besar pemberitaan yang dilakukan oleh masing-masing media bertolak belakang dengan indikator-indikator ekonomi hijau dan tujuan pembangunan berkelanjutan.
A Portrait of Green Economy Governance in Sustainable Development in Eastern Indonesia
Despite its potential benefits to humanity, the green economy fails to ensure an optimal balance and is instead a political concern. The global crisis includes climate disasters and is characterized by climate change, biodiversity loss, massive deforestation, administrative challenges, and other ecological damage. These exacerbate concerns for the environment, society, and economic balance. However, public understanding of green governance is lacking in Southeast Asia, which is considered a potential obstacle to public consensus on forest-dependent interests. Media coverage of forest governance is considered an important source of information in shaping public opinion as it generates digital representations. This study aims to investigate the presence of green economic governance in sustainable development in online news articles through content analysis of media coverage. Over two years (01/01/2020-01/01/2022), researchers collected Indonesian-language articles using the NCapture feature of NVivo 12 Plus, specifically focused on the topic "Environment." A total of 191 national and regional articles provided coverage. The result showed that the regional media Kabapulau.co.id dominates the level of reporting on green economy discourse in North Maluku, and the five online media are equally prominent regarding the natural resource efficiency index. This does not confirm that the environmental management carried out in North Maluku has adhered to the principles of green economy and sustainable development, considering that most of the news carried out by each media contradicts the indicators of green economy and sustainable development goals.
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 16 No 3 (2024).
Hak Cipta (c) 2024 Penulis. Artikel ini dilisensikan di bawah CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.