Baca Naskah Lengkap
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 16 No 3 (2024).
Studi Kasus Kota Bekasi
1.104 Dilihat 1.076 Diunduh
Studi ini menganalisis keberhasilan penerapan tata kelola kolaboratif dalam penanganan stunting di Kota Bekas, yang mana angka stuntingnya telah menurun signifikan dari 18,18% (2018) menjadi 2,33% (2023), jauh melampaui target nasional sebesar 14% untuk tahun 2024. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, studi ini mengkaji bagaimana kolaborasi multipihak berkontribusi terhadap keberhasilan ini. Berdasarkan model Dodeca-Helix yang melibatkan 12 dimensi pemangku kepentingan, studi ini mengungkapkan bahwa tata kelola kolaboratif yang efektif dicapai melalui kepemimpinan fasilitatif yang kuat, desain kelembagaan yang inklusif, dan komitmen pemangku kepentingan yang tinggi. Kerangka kerja kolaboratif mengintegrasikan pemerintah di semua tingkatan, entitas sektor swasta, akademisi, dan organisasi masyarakat dalam pendekatan terstruktur untuk pengurangan stunting. Data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan utama, observasi lapangan, dan analisis dokumen menunjukkan bahwa mengintegrasikan kebijakan lokal dengan kerangka kerja nasional, dilengkapi dengan partisipasi masyarakat dari bawah ke atas, menciptakan sistem yang berkelanjutan untuk intervensi stunting. Pengalaman Kota Bekas menawarkan wawasan berharga bagi daerah lain yang tengah mengembangkan program penanggulangan stunting, dengan menekankan pentingnya integrasi kebijakan multilevel, koordinasi lintas sektor, dan keterlibatan aktif masyarakat. Studi ini memberikan kontribusi pada pemahaman teoritis tentang tata kelola kolaboratif dalam intervensi kesehatan masyarakat dan aplikasi praktis untuk melaksanakan program penanggulangan stunting yang berhasil di tingkat pemerintah daerah.
Integration of Regional Policies and Collaborative Governance in Acceleration of Stunting Reduction: Case Study of Bekasi City
This study analyzes the success of collaborative governance implementation in handling stunting in Bekasi City, where the stunting rate has decreased significantly from 18.18% (2018) to 2.33% (2023), far exceeding the national target of 14% for 2024. By using a qualitative case study approach, this study examines how multi-stakeholder collaboration contributed to this success. Based on the Dodeca-Helix model involving 12 stakeholder dimensions, the study revealed that effective collaborative governance is achieved through strong facilitative leadership, inclusive institutional design, and high stakeholder commitment. The collaborative framework integrates government at all levels, private sector entities, academics, and community organizations in a structured approach to stunting reduction. Data collected through in-depth interviews with key stakeholders, field observations, and document analysis show that integrating local policies with the national framework, complemented by bottom-up community participation, creates a sustainable system for stunting interventions. The experience of Bekasi City offers valuable insights for other regions developing stunting reduction programs, emphasizing the importance of multi-level policy integration, cross-sector coordination, and active community involvement. This study contributes to the theoretical understanding of collaborative governance in public health interventions and practical applications for implementing successful stunting reduction programs at the local government level.
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 16 No 3 (2024).
Hak Cipta (c) 2024 Penulis. Artikel ini dilisensikan di bawah CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.