Baca Naskah Lengkap
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 17 No 2 (2025).
Analisis Spasial Stunting pada Balita di Indonesia 2024
579 Dilihat 678 Diunduh
Stunting pada balita merupakan masalah gizi signifikan yang dapat berdampak negatif terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial prevalensi stunting pada balita di Indonesia sebagai dasar pengembangan intervensi kebijakan berbasis wilayah. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui analisis autokorelasi spasial menggunakan Indeks Moran I dan Indikator Lokal Autokorelasi Spasial (LISA), yang berbasis pada metode K-Nearest Neighbors (KNN). Data prevalensi stunting diperoleh dari 514 kabupaten/kota di Indonesia dan dianalisis untuk mendeteksi pola pengelompokan di daerah berisiko tinggi. Hasil menunjukkan Moran I sebesar 0,315 (nilai P < 0,05), yang mengindikasikan autokorelasi spasial positif antar wilayah. Selain itu, hasil ini menunjukkan bahwa daerah dengan prevalensi stunting tinggi cenderung berkelompok secara geografis, terutama di daerah di luar Jawa, seperti Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Hasil studi ini menekankan pentingnya pendekatan berbasis wilayah untuk pengelolaan stunting yang mempertimbangkan faktor spasial. Daerah dengan tingkat gizi buruk yang tinggi sangat rentan terhadap stunting, seperti yang ditunjukkan oleh rendahnya cakupan gizi, akses terhadap sanitasi, dan konsumsi protein, serta tingginya angka kemiskinan. Situasi ini menyoroti pentingnya intervensi kebijakan yang lebih terfokus dan efektif yang mencakup peningkatan gizi, peningkatan akses terhadap pangan dan sanitasi, pendidikan kesehatan, serta penguatan aspek kesejahteraan dan pendidikan.
Moran’s I Index and KKN-Based LISA: Spatial Analysis of Toddler Stunting in Indonesia 2024
Stunting in toddlers is a significant nutritional issue that may negatively impact the quality of Indonesia’s future human resources. This study aims to analyze the spatial patterns of stunting prevalence in toddlers in Indonesia as a basis for developing region-based policy interventions. A quantitative approach was used through spatial autocorrelation analysis using Moran’s I Index and Local Indicators of Spatial Autocorrelation (LISA), which is based on the K-Nearest Neighbors (KNN) method. Stunting prevalence data were obtained from 514 districts/cities in Indonesia and analyzed to detect clustering patterns in high-risk areas. The results showed a Moran’s I of 0.315 (P-value <), indicating positive spatial autocorrelation among regions. Also, these results indicate that areas with high stunting prevalence tend to be geographically clustered, particularly in areas outside Java, such as Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, and Papua. The results of this study emphasize the importance of a region-based approach to stunting management that accounts for spatial factors. High-high cluster areas are highly vulnerable to stunting, as indicated by low nutrition coverage, access to sanitation, and protein consumption, as well as high poverty rates. This situation highlights the importance of more focused and effective policy interventions that include improving nutrition, increasing access to food and sanitation, health education, and strengthening welfare and education aspects.
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 17 No 2 (2025).
Hak Cipta (c) 2025 Penulis. Artikel ini dilisensikan di bawah CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.