Baca Naskah Lengkap
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 17 No 1 (2025).
Tradisi Lokal, Solidaritas Mekanik-Organisasi, dan Dinamika
545 Dilihat 532 Diunduh
Filantropi di Indonesia berakar kuat pada tradisi lokal dan semangat kerja sama komunal, menjadikannya aspek fundamental kehidupan sosial. Konsep kewarganegaraan di Indonesia melampaui definisi hukum dan politik, mencakup nilai-nilai sosial budaya yang diungkapkan melalui beragam praktik filantropi. Studi ini mengeksplorasi bagaimana tradisi lokal dan dinamika antara solidaritas mekanis dan organik membentuk kerangka sosial budaya filantropi dan memengaruhi pembangunan sipil. Para peneliti mensurvei 387 responden di tujuh wilayah utama: Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Makassar, Medan, Denpasar, dan Samarinda. Pengumpulan data difokuskan pada kesadaran komunal, praktik tradisional, dan peran solidaritas dalam upaya amal. Analisis regresi berganda mengungkapkan bahwa tradisi lokal berkontribusi 35% terhadap penguatan nilai-nilai filantropi. Solidaritas mekanis, yang berakar pada keyakinan bersama, menyumbang 25%, sementara solidaritas organik, yang didorong oleh peran fungsional, menyumbang 20%. Interaksi antara tradisi dan modernitas menambah 20%. Temuan-temuan ini menyoroti bahwa tradisi budaya dan perpaduan solidaritas mekanis dan organik merupakan fondasi vital bagi pembangunan kesadaran sosial. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi yang lebih kuat antara lembaga pemerintah dan masyarakat untuk mengintegrasikan unsur-unsur budaya ini ke dalam gerakan filantropi Indonesia yang modern dan berorientasi kewarganegaraan.
Socio-Cultural Philanthropy: Local Traditions, Mechanical-Organizational Solidarity, and Dynamics
Philanthropy in Indonesia is deeply rooted in local traditions and the spirit of communal cooperation, making it a fundamental aspect of social life. The concept of citizenship in Indonesia goes beyond legal and political definitions, encompassing socio-cultural values expressed through diverse philanthropic practices. This study explores how local traditions and the dynamics between mechanical and organic solidarity shape the socio-cultural framework of philanthropy and influence civic development. The researchers surveyed 387 respondents across seven key regions: Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Makassar, Medan, Denpasar, and Samarinda. Data collection focused on communal awareness, traditional practices, and the roles of solidarity in charitable efforts. Multiple regression analysis revealed that local traditions contribute 35% to strengthening philanthropic values. Mechanical solidarity, rooted in shared beliefs, accounts for 25%, while organic solidarity, driven by functional roles, contributes 20%. The interaction between tradition and modernity adds another 20%. These findings highlight that cultural traditions and the combination of mechanical and organic solidarity are vital foundations for building societal awareness. The research underscores the importance of stronger collaboration between government bodies and communities to incorporate these cultural elements into Indonesia's modern, citizenship-oriented philanthropic movements.
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 17 No 1 (2025).
Hak Cipta (c) 2025 Penulis. Artikel ini dilisensikan di bawah CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.