Model Pemerintahan Adat pada Nagari di Sumatera Barat
DOI:
https://doi.org/10.21787/jbp.12.2020.33-42Kata Kunci:
Nagari, Model Pemerintahan Adat, Demokrasi, KedaulatanAbstrak
UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa memberi peluang kepada masyarakat adat untuk membentuk Pemerintahan Desa Adat. Nagari memiliki sebuah sistem tatanan pemerintahan yang sudah kokoh namun mengalami pengkaburan dan disfungsi secara kelembagaan seiring terjadinya perubahan peraturan dan perundang-undangan tentang pemerintahan desa. Penelitian ini bertujuan menggali dan menemukan kembali model pemerintahan Nagari menurut adat Minangkabau. Pengambilan data dilakukan dengan metode survei, observasi, wawancara dan Focus Group Discussion (FGD), untuk menemukan model pemerintahan adat pada Nagari. Penelitian ini menemukan bahwa, Pertama, terdapat dua model pada sistem pemerintahan Nagari dalam sistem adat Minangkabau, yaitu model aristokratis dan model demokratis. Kedua, identitas kultural masyarakat Minangkabau terefleksi kepada konsep ber-nagari, sebagai suatu sistem tata adat dan tata pemerintahan sebagai satu kesatuan yang bersifat otonom dan mandiri. Ketiga, Sistem pemerintahan Nagari mengakomodir dua sistem yang berjalan secara bersamaan yaitu sistem pemerintahan negara dan sistem pemerintahan adat dalam konteks hidup ber-nagari dengan menggunakan sistem pembagian kekuasaan ke dalam bentuk eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Referensi
Abdullah, T. (1966). Adat and Islam: An Examination of Conflict in Minangkabau. Indonesia, 2, 1–24. https://doi.org/10.2307/3350753
Adian, D. G. (2010). Demokrasi Substansial: Risalah Kebangkrutan Liberalisme. Koekoesan.
Aermadepa. (2016). Perlindungan Hak Konstitusional Masyarakat Hukum Adat Minangkabau dalam Pelaksanaan Gadai Tanah Pertanian. Jurnal Konstitusi, 13(3), 597–612. https://doi.org/10.31078/jk1336
Akmal. (2008). Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat di Sumatera Barat. Jurnal Demokrasi, 7(1), 1–16. http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jd/article/view/1142
Amalia, A. D., & Syawie, M. (2015). Pembangunan Kemandirian Desa Melalui Konsep Pemberdayaan: Suatu Kajian dalam Perspektif Sosiologi. Sosio Informa, 1(2), 175–188. https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/Sosioinforma/article/view/146
Amanulloh, N. (2015). Demokratisasi Desa. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia.
Azwar, W. (2001). Matrilokal dan Status Perempuan dalam Tradisi Bajapuik: Studi Kasus tentang Perempuan dalam Tradisi Bajapuik. Galang Press.
Azwar, W. (2018). The Resistance of Local Wisdom Towards Radicalism: The Study of the Tarekat Community of West Sumatra, Indonesia. PERTANIKA Journal Social Sciences & Humanities, 26(1), 75–102. http://www.pertanika.upm.edu.my/Pertanika PAPERS/JSSH Vol. 26 (1) Mar. 2018/05 JSSH-1622-2016-3rdProof.pdf
Azwar, W., Muliono, Permatasari, Y., Akmal, H., Ibrar, S., & Melisa. (2019). Nagari Customary Justice System in West Sumatra. Jurnal Bina Praja, 11(1), 53–62. https://doi.org/10.21787/jbp.11.2019.53-62
Azwar, W., Yunus, Y., Muliono, & Permatasari, Y. (2018). Nagari Minangkabau: The Study of Indigenous Institutions in West Sumatra, Indonesia. Jurnal Bina Praja, 10(2), 231–239. https://doi.org/10.21787/jbp.10.2018.231-239
Basyaib, F. (2006). Teori Pembuatan Keputusan. Grasindo.
Dahl, R. A. (1971). Polyarchy: Participation and Opposition. Yale University Press.
Dahlan, A., & ’Irfaan, S. (2014). Mengagas Negara Kesejahteraan. El-Jizya : Jurnal Ekonomi Islam, 2(1), 1–22. https://doi.org/10.24090/ej.v2i1.2014.pp1-22
de Josselin de Jong, P. E. (1980). Minangkabau and Negri Sembilan. Springer Netherlands. https://doi.org/10.1007/978-94-009-8198-0
Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (2009). Handbook of Qualitative Research (N. K. Denzin & Y. S. Lincoln (eds.)). SAGE.
Djamra, N. S. (2012). Nagari di Titik Nadir: Rapuhnya Institusi Sosial & Kultural Masyarakat Minangkabau. In B. R. Ahmad, Syaiful, Tamrin, Irawati, & A. Rusta (Eds.), Dari Desa ke Nagari: Pelaksanaan Otonomi Daerah di Sumatera Barat (pp. 1–20). Laboratorium Ilmu Politik Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas.
Field, J. (2009). Modal Sosial. Penerbit Kreasi Wacana.
Fuadi, A. (2015). Negara Kesejahteraan (Welfare State) dalam Pandangan Islam dan Kapitalisme. JESI (Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia), 5(1), 13–32. https://doi.org/10.21927/jesi.2015.5(1).13-32
Geraldy, G. (2017). SOBO PENDOPO DIALOGUE: Manifestation of Deliberative Democracy in Bojonegoro Regency. Sosiologi Reflektif, 12(1), 37–54. https://doi.org/10.14421/jsr.v12i1.1315
Haliim, W. (2016). Demokrasi Deliberatif Indonesia: Konsep Partisipasi Masyarakat dalam Membentuk Demokrasi dan Hukum yang Responsif. Masyarakat Indonesia, 42(1), 19–30. http://jmi.ipsk.lipi.go.id/index.php/jmiipsk/article/view/556
Hanani, S., & Aziz, R. A. (2009). Rekonstruksi dan usaha penyelamatan tradisi lokal era pasca sentralisme di Indonesia. Geografia, 5(2), 68–81. http://ejournals.ukm.my/gmjss/article/view/17905
Hardiman, F. B. (2009). Demokrasi Deliberatif: Menimbang “Negara Hukum” dan “Ruang Publik” dalam Teori Diskursus Jürgen Habermas. Kanisius.
Hasanuddin. (2017). Nilai dan Karakter Budaya. https://www.researchgate.net/publication/326580891_Nilai_dan_Karakter_Budaya_Indonesia
Kurniawan, J. A. (2008). Hukum Adat dan Problematika Hukum Indonesia. Yuridika, 23(1). http://blog.umy.ac.id/septine/files/2012/05/hukum-adat-dan-problematika-hukum-indonesia1.pdf
Kusmanto, H. (2014). Partisipasi Masyarakat dalam Demokasi Politik. JPPUMA, 2(1), 78–90. https://ojs.uma.ac.id/index.php/jppuma/article/view/582
Lehmann, D. (1990). Democracy and Development in Latin America: Economics, Politics and Religion in the Post-war Period. Polity Press.
Lombok, L. L. (2014). Kedaulatan Negara vis a vis Keistimewaan dan Kekebalan Hukum Organisasi Internasional dalam Sebuah Intervensi Kemanusiaan. Pandecta: Research Law Journal, 9(1), 50–75. https://doi.org/10.15294/pandecta.v9i1.2853
Maliki, Z. (2016). Sosiologi Politik: Makna Kekuasaan dan Transformasi Politik. UGM Press.
Mardiyanta, A. (2011). Kebijakan Publik Deliberatif : Relevansi dan Tantangan lmplementasinya. Media Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik, 24(3), 261–271. https://www.academia.edu/12552894/Kebijakan_Publik_Deliberatif_Relevansi_dan_Tantangan_lmplementasinya
Mariana, D., Yudatama, I., Fitrianingrum, N., Angga, R. D., Pranawa, S., Yulianto, S., Sukasmanto, Zamroni, S., & Hariyanto, T. (2017). Desa: Situs Baru Demokrasi Lokal (F. G. A. Nasution (ed.)). Institute for Research and Empowerment (IRE).
Marsden, W. (1966). The History of Sumatra (3rd ed.). Oxford University Press.
Megawati. (2018). Negara Demokratis dalam Perspektif Transendental (Studi terhadap Landasan Kedaulatan Rakyat dalam Sistem Perwakilan di Indonesia). Prosiding Seminar Nasional 2018, 191–200. http://hdl.handle.net/11617/9696
Michael, T. (2016). Memaknai Pemikiran Jean-Jacques Rousseau tentang Kehendak Umum Menciptakan Keadilan. Proceeding SENDI_U, 528–534. https://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/sendi_u/article/view/4236
Mouffe, C. (1999). Deliberative Democracy or Agonistic Pluralism? Social Research, 66(3), 745–758. https://www.jstor.org/stable/40971349
Muzaqqi, F. (2012). Musyawarah Mufakat: Gagasan dan Tradisi Genial Demokrasi Deliberatif di Indonesia. Jurnal Politik Indonesia, 1(2), 21–30. http://journal.unair.ac.id/JPI@musyawarah-mufakat--gagasan-dan-tradisi-genial--demokrasi-deliberatif-di-indonesia-article-5256-media-142-category-142.html
Muzaqqi, F. (2013). Diskursus Demokrasi Deliberatif di Indonesia. Jurnal Review Politik, 3(1), 123–139. http://jurnalfuf.uinsby.ac.id/index.php/JRP/article/view/1040
Navis, A. A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Grafitipers.
Nugroho, H. (2012). Demokrasi dan Demokratisasi: Sebuah Kerangka Konseptual untuk Memahami Dinamika Sosial-Politik di Indonesia. Jurnal Pemikiran Sosiologi, 1(1), 1–15. https://doi.org/10.22146/jps.v1i1.23419
Oki, A. (1977). Social change in the West Sumatran village: 1908-1945 [Australian National University]. https://doi.org/10.25911/5d74e0b56e7ed
Pamungkas, C. (2017). Noken Electoral System in Papua Deliberative Democracy in Papuan Tradition. Jurnal Masyarakat Dan Budaya, 19(2), 219–236. https://doi.org/10.14203/jmb.v19i2.389
Pranadji, T. (2006). Penguatan Modal Sosial untuk Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan dalam Pengelolaan Agroekosistem Lahan Kering (Studi Kasus di Desa-desa (Hulu DAS) Ex Proyek Bangun Desa, Kabupaten Gunungkidul dan Ex Proyek Pertanian Lahan Kering, Kabupaten Boyolali). Jurnal Agro Ekonomi, 24(2), 178–206. https://doi.org/10.21082/jae.v24n2.2006.178-206
Puspitasari, S. H. (2001). Kontektualisasi Pemikiran Machiavelli tentang Kekuasaan-Tujuan Negara. Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM, 8(18), 30–45. https://doi.org/10.20885/iustum.vol8.iss18.art3
Ritzer, G., & Goodman, D. J. (2012). Teori Sosiologi Modern. Kencana Prenada Media.
Sukmana, O. (2016). Konsep dan Desain Negara Kesejahteraan (Welfare State). Jurnal Sosial Politik, 2(1), 103–122. https://doi.org/10.22219/sospol.v2i1.4759
Sumodiningrat, G., & Agustian, A. G. (2008). Mencintai Bangsa dan Negara: Pegangan dalam Hidup Berbangsa dan Bernegara di Indonesia. ARGA.
Suparto. (2016). Pemisahan Kekuasaan, Konstitusi dan Kekuasaan Kehakiman yang Independen menurut Islam. Jurnal Selat, 4(1), 115–129. https://ojs.umrah.ac.id/index.php/selat/article/view/154
Syafiie, I. K. (2001). Pengantar Ilmu Pemerintahan. Refika Aditama.
Triwibowo, D. (2006). Mimpi Negara Kesejahteraan: Peran Negara dalam Produksi dan Alokasi Kesejahteraan Sosial. LP3ES.
Vel, J. A. C., & Bedner, A. W. (2015). Decentralisation and village governance in Indonesia: the return to the nagari and the 2014 Village Law. The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, 47(3), 493–507. https://doi.org/10.1080/07329113.2015.1109379
Warman, K., & Andora, H. (2014). Pola Hubungan Hukum dalam Pemanfaatan Tanah Ulayat di Sumatera Barat. Mimbar Hukum, 26(3), 366–381. https://doi.org/10.22146/jmh.16031
Wijaya, D. N. (2014). John Locke dalam Demokrasi. Jurnal Sejarah Dan Budaya, 8(1), 13–24. http://journal.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya/article/view/4751



















