Pilkada Serentak 2018

Transaksi Mahar Politik dan Implikasi Kebijakan Pemilihan Kepala Daerah

Penulis

  • Ray Ferza Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Dalam Negeri
  • Nuril Fikri Aulia Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Dalam Negeri

DOI:

https://doi.org/10.21787/jbp.12.2020.11-20

Kata Kunci:

Mahar Politik, Regulasi, Partai Politik

Abstrak

Secara eksplisit mahar politik tidak termasuk dalam terminologi peraturan perundangan.  Sampai saat ini belum pernah ada pelanggaran resmi pemilu terkait mahar politik namun mahar politik terjadi hampir di setiap ajang Pemilihan Kepala Daerah. Padahal, praktik mahar politik memiliki impak yang cukup destruktif, semisal pemerintahan terbentuk pasca pemilihan kepala Daerah yang transaksional dan koruptif. Studi ini bertujuan untuk menganalisis praktik mahar politik pada pemilihan kepala Daerah 2018, faktor-faktor yang berperan dalm terjadinya praktik mahar politik pilkada dan upaya penegakkan regulasi terhadap praktik mahar politik. Metode studi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Momen Pemilihan Kepala Daerah 2018 telah digunakan sebagai ladang bertumbuhnya praktik mahar politik, secara regulatif pelarangan praktik mahar politik telah difasilitasi oleh Undang-Undang 10 Tahun 2016 dan UU 2 Tahun 2011.  Secara regulatif, Praktik mahar Politik Pilkada tidak dapat dikategorikan sebagai tindak Pidana Korupsi, Belum Pernah ada sanksi yang sukses diterapkan bagi praktik mahar politik Pilkada, UU No. 10 Tahun 2016 menuntut pembuktian Mahar Politik dengan proses peradilan sampai status inkracht, Hal-hal yang menyebabkan mahar politik adalah keterbatasan dana  parpol untuk mebiaya tingginya biaya politik, kurangnya inteegritas organisasi partai politik, kurangnya individu elit politik, dan sentralisme partai politik dalam memberikan persetujuan atas calon yang diusulkan

Referensi

Agustina, W. (2017, September 26). Dedi Mulyadi Diminta Rp 10 Miliar untuk Pilkada Jawa Barat (W. Agustina (ed.)). Tempo.Co. https://nasional.tempo.co/read/1020024/dedi-mulyadidiminta-rp-10-miliar-untuk-pilkada-jawa-barat

Ayeni, O. O. (2019). Commodification of Politics: Party Funding and Electoral Contest in Nigeria. SAGE Open, 9(2), 215824401985585. https://doi.org/10.1177/2158244019855855

Azra, A. (2016, March 16). Mahar Politik, Politik Mahar (S. Gatra (ed.)). Kompas.Com. https://nasional.kompas.com/read/2016/03/16/10594231/Mahar.Politik.Politik.Mahar

Bhawono, A. (2018, January 13). Prabowo: Rp 300 Miliar untuk Nyagub Itu Paket Hemat. DetikNews. https://news.detik.com/berita/d-3813301/prabowo-rp-300-miliar-untuk-nyagub-itu-paket-hemat

Chaniago, P. S. (2016). Evaluasi Pilkada Pelaksanaan Pilkada Serentak Tahun 2015. Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review, 1(2), 196–211. https://doi.org/10.15294/jpi.v1i2.6585

CNN Indonesia. (2018, January 20). Tudingan Mahar Politik, Kemarin Gerindra & Hanura, Sekarang PKS? [Video File]. https://www.youtube.com/watch?v=Oku2y70zVtE

Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th ed.). SAGE.

Dariyanto, E. (2018, April 13). Ketum PAN Sebut Biaya Saksi di Pilgub Jatim Capai Rp 200 Miliar. DetikNews. https://news.detik.com/berita/d-3969889/ketum-pan-sebut-biaya-saksi-di-pilgub-jatim-capai-rp-200-miliar

Gabrillin, A. (2015, July 28). Diminta “Mahar” Politik, Sebastian Salang Batal Jadi Calon Bupati (S. Gatra (ed.)). Kompas.Com. https://nasional.kompas.com/read/2015/07/28/16183391/Diminta.Mahar.Politik.Sebastian.Salang.Batal.Jadi.Calon.Bupati

Gunawan, W. (2018). Anomali Kewenangan Dewan Pimpinan Pusat Partai Politik dalam Sistem Desentralisasi Pemerintahan di Indonesia. Jurnal Academia Praja, 1(1), 111–128. https://doi.org/10.36859/jap.v1i01.44

Hanafi, R. I. (2014). Pemilihan Langsung Kepala Daerah di Indonesia: Beberapa Catatan Kritis untuk Partai Politik. Jurnal Penelitian Politik, 11(2), 1–16. https://doi.org/10.14203/jpp.v11i2.197

Hanif, H. (2009). Politik Klientelisme Baru dan Dilema Demokratisasi di Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 12(3), 257–390. https://doi.org/10.22146/jsp.10974

Harris, S. (2018). Regulasi “Mahar Politik” Perlukah?

Heidenheimer, A. J. (2007). Political Corruption: A Handbook. Transaction Publishers.

Hummel, C., Gerring, J., & Burt, T. (2019). Do Political Finance Reforms Reduce Corruption? British Journal of Political Science, 1–21. https://doi.org/10.1017/S0007123419000358

Ihsanuddin. (2018, January 12). Waketum Gerindra Nilai Wajar jika La Nyalla Diminta Rp 40 Miliar oleh Prabowo (I. D. Wedhaswary (ed.)). Kompas.Com. https://nasional.kompas.com/read/2018/01/12/10140391/waketum-gerindra-nilai-wajar-jika-la-nyalla-diminta-rp-40-miliar-oleh

Indrayana, D. (2017). Money Politics in a More Democratic Indonesia : An Overview. Australian Journal of Asian Law, 18(2), 1–15. https://ssrn.com/abstract=3144916

Irawan, A., Dahlan, A., Fariz, D., & Putri, A. G. (2014). Panduan Pemantauan Korupsi Pemilu. Indonesia Corruption Watch (ICW).

Mardiansyah, W. (2018, January 17). Oesman : Parpol Biasa Ada Mahar Asal Tak Dipaksa. Medcom.Id. https://www.medcom.id/nasional/politik/GNGM6qlk-oesman-parpol-biasa-ada-mahar-asal-tak-dipaksa

Mietzner, M. (2015). Dysfunction by Design: Political Finance and Corruption in Indonesia. Critical Asian Studies, 47(4), 587–610. https://doi.org/10.1080/14672715.2015.1079991

Mladenovic, A. (2010). Electoral finance reform in New Zealand: a need for a conceptual framework. Policy Quarterly, 6(1), 37–43. https://doi.org/10.26686/pq.v6i1.4322

Monita, T., Lestari, A. A., & Yustikarini, H. D. (2018). Polemik Budaya Gratifikasi (Mahar Politik) dalam Implisit Penyelenggaraan Pesta Rakyat di Indonesia. Law Research Review Quarterly, 4(2).

Mulyadi, D. (2018). Concurrent Regional Elections Phenomenon as a Political Recruitment in Indonesia. Jurnal Dinamika Hukum, 18(1), 87–92. https://doi.org/10.20884/1.jdh.2018.18.1.843

Noor, F. A. (2011). The Partai Keadilan Sejahtera (PKS) in the landscape of Indonesian Islamist Politics - Cadre-Training as Mode of Preventive Radicalisation? (No. 231; RSIS Working Paper).

Putra, E. V. (2017). Money Politics dalam Penyelenggaraan Pemilihan Umum di Kota Pariaman. SOCIUS, 4(1), 1–16. https://doi.org/10.24036/scs.v4i1.19

Qodir, Z. (2016). Politik Uang dalam Pemilu-Pemilukada 2014: Modus dan Resolusinya. Jurnal Administrasi Pemerintahan Daerah, 8(2), 39–54. http://ejournal.ipdn.ac.id/JAPD/article/view/82

Redjo, S. I. (2016). Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Dinamika Demokrasi dan Partai Politik di Indonesia. Jurnal Agregasi, 4(2), 199–210. https://doi.org/10.34010/agregasi.v4i2.195

Shihab, N. (2018, February 21). Part 3 - Uang Haram Demokrasi: Miliaran Rupiah! Jual Beli Dukungan Partai Politik [Video File]. https://www.youtube.com/watch?v=-rJAjy1UtNE

Solihah, R. (2016). Politik Transaksional dalam Pilkada Serentak dan Implikasinya bagi Pemerintahan Daerah di Indonesia. The POLITICS: Jurnal Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, 2(1), 97–109. http://journal.unhas.ac.id/index.php/politics/article/view/1659

Susilo, A. B., & Sa’bani, A. (2018). Mahar Politik Sebagai Bagian dari Unsur Tindak Pidana. Law Research Review Quarterly, 4(2), 154–169.

Sutisna, A. (2017). Demokrasi Elektoral dan Pilkada Langsung: Tinjauan Teori dan Sisi Gelapnya. In S. Ladiqi, I. S. Wekke, & C. Seftyono (Eds.), Religion, State and Society: Exploration of Southeast Asia (1st ed., pp. 115–139). Political Science Program, Department of Politics and Civics Education, Universitas Negeri Semarang.

Diterbitkan

2020-05-28

Cara Mengutip

Pilkada Serentak 2018: Transaksi Mahar Politik dan Implikasi Kebijakan Pemilihan Kepala Daerah. (2020). Jurnal Bina Praja, 12(1), 11-20. https://doi.org/10.21787/jbp.12.2020.11-20

Terbitan

Bagian

Artikel

Cara Mengutip

Pilkada Serentak 2018: Transaksi Mahar Politik dan Implikasi Kebijakan Pemilihan Kepala Daerah. (2020). Jurnal Bina Praja, 12(1), 11-20. https://doi.org/10.21787/jbp.12.2020.11-20

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama