Nagari Minangkabau
Studi terhadap Kelembagaan Masyarakat Adat di Sumatera Barat, Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.21787/jbp.10.2018.231-239Kata Kunci:
Nagari, kelembagaan adat, masyarakat adat, republik kecil, Nagari, Kelembagaan Adat, Masyarakat Adat, Small RepublicAbstrak
Nagari substansi Minangkabau satu di antara wilayah di Indonesia disebut Belanda dengan Republik Kecil. Hilang nagari, musnah Minangkabau dan lenyap bagian kekuatan identitas bangsa. Justru nagari Minang merupakan daerah istimewa dan sentra kekayaan warisan budaya (benda dan non benda) dan sejarah yang bernilai warisan dunia (world heritage). Karenanya seiring dengan perkembangan pemerintahan NKRI, Nagari memerlukan kebijakan publik yang adil, tidak hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Kebijakan itu juga memberi peluang nagari sebagai bagian wilayah subkultur dan geneologis suku-suku bangsa di Sumatera untuk memenej (merencanakan, mengorganisasikan, menggerakan dan mengontrol) penguatan identitas, integritas dan keberlanjutan hidupnya. Tegasnya memberi peluang nagari berupaya melestarikan dan mewariskan nilai-nilai warisan budaya dan sejarahnya kepada generasi berikutnya dan terkonsolidasi dalam program warisan dunia internasional yang dikelola UNESCO World Heritage Committee, karena sangat berarti bagi kemanusiaan.
Referensi
Amalia, A. D., & Syawie, M. (2015). Pembangunan Kemandirian Desa melalui Konsep Pemberdayaan: Suatu Kajian dalam Perspektif Sosiologi. Sosio Informa, 175–188. Retrieved from http://ejournal.kemsos.go.id/index.php/Sosioinforma/article/view/146
Astuti, N. B. (2009). Transformasi dari Desa Kembali ke Nagari (Studi Kasus di Kenagarian IV Koto Palembayan, Sumatera Barat). Bogor Agricultural University. Retrieved from https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5046
Astuti, N. B., & Kolopaking, L. M. (2009). Dilema dalam Transformasi Desa Ke Nagari: Studi Kasus di Kenagarian IV Koto Palembayan, Provinsi Sumatera Barat. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 3(2), 153–172. http://doi.org/10.22500/sodality.v3i2.5868
Azwar, W. (2018). The Resistance of Local Wisdom Towards Radicalism: The Study of the Tarekat Community of West Sumatra, Indonesia. Pertanika Journal of Social Sciences & Humanities (JSSH), 26(1), 75–102. Retrieved from http://www.pertanika.upm.edu.my/Pertanika PAPERS/JSSH Vol. 26 (1) Mar. 2018/05 JSSH-1622-2016-3rdProof.pdf
Hanani, S., & Aziz, R. A. (2009). Rekonstruksi dan usaha penyelamatan tradisi lokal era pasca sentralisme di Indonesia. Geografia - Malaysian Journal of Society and Space, 5(2), 68–81. Retrieved from http://ejournal.ukm.my/gmjss/article/view/17905
Hardiman, F. B. (2015). Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius.
Herry, A. (2015). Kesiapan Desa Menghadapi Implementasi Undang-Undang Desa (Tinjauan Desentralisasi Fiskal dan Peningkatan Potensi Desa). Civis, 5(1), 737–751. Retrieved from http://journal.upgris.ac.id/index.php/civis/article/view/634
Holstein, J. A., & Gubrium, J. F. (2009). Fenomenologi, Etnometodologi, dan Praktik Interpretif. In N. K. Denzin & Y. S. Lincoln (Eds.), Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
ICRAF, LATIN, & P3AE-UI. (2001). Kajian Kebijakan Hak-Hak Masyarakat Adat di Indonesia; Suatu Refleksi Pengaturan Kebijakan dalam Era Otonomi Daerah. Seri Kebijakan I. ICRAF, LATIN, P3AE-UI.
Muhi, A. H. (2011). Fenomena pembangunan desa. Institute Pemerintahan Dalam Negeri, 1–20.
Nasrul, W. (2013). Peran Kelembagaan Lokal Adat dalam Pembangunan Desa. Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi Dan Pembangunan, 14(1), 102. http://doi.org/10.23917/jep.v14i1.164
Nazir, M. (1988). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Pranadji, T. (2006). Penguatan Modal Sosial untuk Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan dalam Pengelolaan Agroekosistem Lahan Kering (Studi Kasus di Desa-desa (Hulu DAS) Ex Proyek Bangun Desa, Kabupaten Gunungkidul dan Ex Proyek Pertanian Lahan Kering, Kabupaten Boyolali). Jurnal Agro Ekonomi, 24(2), 178–206. http://doi.org/10.21082/jae.v24n2.2006.178-206
Vel, J. A. C., & Bedner, A. W. (2015). Decentralisation and village governance in Indonesia: the return to the nagari and the 2014 Village Law. The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, 47(3), 493–507. http://doi.org/10.1080/07329113.2015.1109379
Wekke, I. S. (2013). Islam dan Adat: Tinjauan Akulturasi Budaya dan Agama dalam Masyarakat Bugis. Analisis, XIII(1), 27–56. Retrieved from http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/analisis/article/view/641
Widyanti, T. (2015). Penerapan Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Budaya. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 24(2).
Yunus, Y. (2008, October 29). Pemahaman tentang Nagari | Wawasan Islam. Retrieved from https://wawasanislam.wordpress.com/2009/03/06/pemahaman-tentang-nagari/
Yunus, Y. (Ed.). (2011). Adat Basandi Syarak - Syarak Basandi Kitabullah dalam Masyarakat Minangkabau. Padang, Indonesia: Museum Nagari.



















