Baca Naskah Lengkap
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 18 No 2 (2026).
262 Dilihat 159 Diunduh
Perluasan pembangunan ekstraktif telah mempertajam konflik lingkungan di banyak komunitas masyarakat adat, khususnya di wilayah di mana kepentingan ekonomi mengancam keberlanjutan ekologis dan ruang hidup masyarakat setempat. Perlawanan perempuan Samin di Pegunungan Kendeng Utara, Jawa Tengah, merupakan gerakan lingkungan yang signifikan, di mana kaum perempuan secara aktif menentang industrialisasi semen dan penambangan batu kapur. Studi ini menganalisis bagaimana perempuan Samin membangun perlawanan ekologis dengan memadukan perspektif ekofeminisme, teori gerakan sosial baru, dan keadilan lingkungan. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan para tokoh kunci gerakan, observasi lapangan, serta analisis dokumen yang mencakup peraturan pemerintah, kajian lingkungan, dokumen hukum, dan laporan media. Temuan studi menunjukkan bahwa gerakan perempuan Samin muncul sebagai respons terhadap ketidakadilan lingkungan akibat pembangunan ekstraktif yang mengancam sumber daya air, mata pencaharian berbasis pertanian, dan kelestarian budaya. Melalui filosofi *Ibu Bumi*, kaum perempuan mentransformasikan pengetahuan ekologis dan nilai-nilai budaya menjadi agensi politik. Perlawanan mereka berkembang melalui aksi simbolik, advokasi hukum, dan jejaring kolektif yang melibatkan masyarakat setempat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, serta gerakan lingkungan yang lebih luas. Studi ini berargumen bahwa gerakan perempuan Samin bukan sekadar penolakan terhadap pembangunan pabrik semen, melainkan sebuah perjuangan multidimensi demi keadilan ekologis, identitas budaya, dan perlindungan ruang hidup masyarakat.
Development, Deprivation of Living Space, and the Samin Women’s Movement in the North Kendeng Mountains, Central Java
The expansion of extractive development has intensified environmental conflicts in many indigenous communities, particularly where economic interests threaten ecological sustainability and local living spaces. The resistance of Samin women in the North Kendeng Mountains, Central Java, represents a significant environmental movement in which women have actively challenged cement industrialization and limestone mining. This study analyzes how Samin women construct ecological resistance by integrating the perspectives of ecofeminism, new social movement theory, and environmental justice. Using a qualitative case study approach, we collected data through in-depth interviews with key actors in the movement, field observations, and document analysis covering government regulations, environmental assessments, legal documents, and media reports. The findings indicate that the Samin women’s movement emerged in response to environmental injustice arising from extractive development that threatened water resources, agricultural livelihoods, and cultural sustainability. Through the philosophy of Ibu Bumi [Mother Earth], women transformed ecological knowledge and cultural values into political agency. Their resistance developed through symbolic actions, legal advocacy, and collective networks involving local communities, civil society organizations, academics, and broader environmental movements. This study argues that the Samin women’s movement is not merely opposition to cement plant development but represents a multidimensional struggle for ecological justice, cultural identity, and the protection of community living spaces.
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 18 No 2 (2026).
Hak Cipta (c) 2026 Penulis. Artikel ini dilisensikan di bawah CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.