Pembangunan, Hilangnya Ruang Hidup, dan Gerakan Perempuan Samin di Pegunungan Kendeng Utara, Jawa Tengah

Penulis

DOI:

https://doi.org/10.21787/jbp.18.2026.3325

Kata Kunci:

pembangunan, ruang hidup, ekofeminisme, keadilan lingkungan, Pegunungan Kendeng Utara

Abstrak

Perluasan pembangunan ekstraktif telah mempertajam konflik lingkungan di banyak komunitas masyarakat adat, khususnya di wilayah di mana kepentingan ekonomi mengancam keberlanjutan ekologis dan ruang hidup masyarakat setempat. Perlawanan perempuan Samin di Pegunungan Kendeng Utara, Jawa Tengah, merupakan gerakan lingkungan yang signifikan, di mana kaum perempuan secara aktif menentang industrialisasi semen dan penambangan batu kapur. Studi ini menganalisis bagaimana perempuan Samin membangun perlawanan ekologis dengan memadukan perspektif ekofeminisme, teori gerakan sosial baru, dan keadilan lingkungan. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan para tokoh kunci gerakan, observasi lapangan, serta analisis dokumen yang mencakup peraturan pemerintah, kajian lingkungan, dokumen hukum, dan laporan media. Temuan studi menunjukkan bahwa gerakan perempuan Samin muncul sebagai respons terhadap ketidakadilan lingkungan akibat pembangunan ekstraktif yang mengancam sumber daya air, mata pencaharian berbasis pertanian, dan kelestarian budaya. Melalui filosofi *Ibu Bumi*, kaum perempuan mentransformasikan pengetahuan ekologis dan nilai-nilai budaya menjadi agensi politik. Perlawanan mereka berkembang melalui aksi simbolik, advokasi hukum, dan jejaring kolektif yang melibatkan masyarakat setempat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, serta gerakan lingkungan yang lebih luas. Studi ini berargumen bahwa gerakan perempuan Samin bukan sekadar penolakan terhadap pembangunan pabrik semen, melainkan sebuah perjuangan multidimensi demi keadilan ekologis, identitas budaya, dan perlindungan ruang hidup masyarakat.

Referensi

Albar, Z. A. (2019). Keabsahan Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Pasca Putusan Mahkamah Agung tentang Penambangan Pabrik Semen [The Validity of the Central Java Governor’s Decree Following the Supreme Court Ruling on Cement Plant Mining]. Jurnal Cakrawala Hukum, 10(1), 107–115. https://doi.org/10.26905/idjch.v10i1.3117

Asmarani, N. N. O. (2018). Ekofeminisme dalam Antroposen: Relevankah? Kritik terhadap Gagasan Ekofeminisme [Ecofeminism in the Anthropocene: Is It Relevant? A Critique of Ecofeminist Thought]. Balairung, 1(1), 126–143. https://doi.org/10.22146/balairung.v1i1.34987

Asriani, D. D. (2016). Training Instruments for Environmental Justice for Women in Indonesia: A Community Development Project of ASEAN Study Centre. Asian Journal of Women’s Studies, 22(1), 75–85. https://doi.org/10.1080/12259276.2015.1133165

Astuti, T. M. P. (2012). Ekofeminisme dan Peran Perempuan dalam Lingkungan [Ecofeminism and the Role of Women in the Environment]. Indonesian Journal of Conservation, 1(1), 49–60. https://doi.org/10.15294/ijc.v1i1.2064

BBC News Indonesia. (2016, April 13). Tolak Pembangunan Pabrik Semen, Sembilan Perempuan Cor Kaki [Rejecting Cement Plant Construction, Nine Women Encase Their Feet]. BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160413_indonesia_protes_semen_istana

BBC News Indonesia. (2017, March 13). Para Petani Kendeng Kembali Aksi Menyemen Kaki di Istana Negara [Kendeng Farmers Again Encase Their Feet in Cement at the State Palace]. BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39257296

Bruno, T., & Jepson, W. (2018). Marketisation of Environmental Justice: U.S. EPA Environmental Justice Showcase Communities Project in Port Arthur, Texas. Local Environment, 23(3), 276–292. https://doi.org/10.1080/13549839.2017.1415873

Buckingham, S. (2004). Ecofeminism in the Twenty-First Century. The Geographical Journal, 170(2), 146–154. https://doi.org/10.1111/j.0016-7398.2004.00116.x

Case, R., & Caragata, L. (2009). The Emergence of a New Social Movement: Social Networks and Collective Action on Water Issues in Guelph, Ontario. Community Development, 40(3), 247–261. https://doi.org/10.1080/15575330903091738

d’Eaubonne, F. (1974). Le féminisme ou la mort [Feminism or Death]. Femmes en Mouvement.

Fachrudin, F. (2016, November 14). Ratusan Warga Rembang dan Pati Datangi MA [Hundreds of Rembang and Pati Residents Visit the Supreme Court]. Kompas.com. https://nasional.kompas.com/read/2016/11/14/12225731/ratusan.warga.rembang.dan.pati.datangi.ma

Fahimah, S. (2017). Ekofeminisme: Teori dan Gerakan [Ecofeminism: Theory and Movement]. Alamtara: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, 1(1), 6–19. https://ejournal.iai-tabah.ac.id/alamtaraok/article/view/220

Fisher, R., & Kling, J. (1994). Community Organization and New Social Movement Theory. Journal of Progressive Human Services, 5(2), 5–23. https://doi.org/10.1300/J059v05n02_02

Gentry, C. (2004). The Relationship Between New Social Movement Theory and Terrorism Studies: The Role of Leadership, Membership, Ideology and Gender. Terrorism and Political Violence, 16(2), 274–293. https://doi.org/10.1080/09546550490483422

Gozali, R. (2017, December 13). Massa JMPPK Akan Menggelar Aksi Lanjutan Tolak Pabrik Semen di Pati [JMPPK Crowd to Stage Further Action Rejecting the Cement Plant in Pati]. TribunJateng.com. https://jateng.tribunnews.com/2017/12/13/massa-jmppk-akan-menggelar-aksi-lanjutan-tolak-pabrik-semen-di-pati

Hananto, A. (2021, August 29). Sejarah Memilukan Asal Mula Istilah “Tree Hugger” atau Para Pemeluk Pohon [The Painful History Behind the Origin of the Term “Tree Hugger”]. Mongabay. https://mongabay.co.id/2021/08/29/sejarah-memilukan-asal-mula-istilah-tree-hugger-atau-para-pemeluk-pohon/

Harner, J., Warner, K., Pierce, J., & Huber, T. (2002). Urban Environmental Justice Indices. The Professional Geographer, 54(3), 318–331. https://doi.org/10.1111/0033-0124.00333

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2017). Kajian Lingkungan Hidup Strategis untuk Kebijakan Pemanfaatan dan Pengelolaan Pegunungan Kendeng Secara Berkelanjutan: Kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih & Sekitarnya, Kabupaten Rembang [Strategic Environmental Assessment for the Sustainable Utilization and Management Policy of the Kendeng Mountains: Watuputih Groundwater Basin (CAT) Area and Surroundings, Rembang Regency].

Kompas.com. (2009a, January 30). Pembangunan Pabrik Semen Gresik di Pati Dihentikan Sementara [Construction of the Semen Gresik Plant in Pati Temporarily Halted]. Kompas.com. https://biz.kompas.com/read/2009/01/30/21315966/pembangunan-pabrik-semen-gresik-di-pati-dihentikan-sementara

Kompas.com. (2009b, August 7). Walhi Apresiasi Putusan Menolak Semen Gresik [Walhi Welcomes the Ruling Rejecting Semen Gresik]. Kompas.com. https://megapolitan.kompas.com/read/2009/08/07/12215480/walhi-apresiasi-putusan-menolak-semen-gresik

LBH Jakarta. (2017, March 16). Pendapat Hukum tentang Putusan MA dan Izin Pembangunan Pabrik Semen di Rembang [Legal Opinion on the Supreme Court Ruling and the Permit for the Construction of a Cement Plant in Rembang]. LBH Jakarta. https://bantuanhukum.or.id/pendapat-hukum-tentang-putusan-ma-dan-izin-pembangunan-pabrik-semen-di-rembang/

Mahadewi, N. M. A. S. (2019). Perempuan Pecinta Alam Sebagai Wujud Ekofeminisme [Women Nature Lovers as a Manifestation of Ecofeminism]. Jurnal Ilmiah Widya Sosiopolitika, 1(1), 36–45. https://doi.org/10.24843/JIWSP.2019.v01.i01.p02

Martínez-Alier, J. (2003). Scale, Environmental Justice, and Unsustainable Cities. Capitalism Nature Socialism, 14(4), 43–63. https://doi.org/10.1080/10455750308565545

Martinez-Alier, J., Temper, L., Del Bene, D., & Scheidel, A. (2016). Is There a Global Environmental Justice Movement? The Journal of Peasant Studies, 43(3), 731–755. https://doi.org/10.1080/03066150.2016.1141198

Maulana, R., & Supriatna, N. (2019). Ekofeminisme: Perempuan, Alam, Perlawanan atas Kuasa Patriarki dan Pembangunan Dunia (Wangari Maathai dan Green Belt Movement 1990–2004) [Ecofeminism: Women, Nature, and Resistance to Patriarchal Power and World Development (Wangari Maathai and the Green Belt Movement, 1990–2004)]. Factum, 8(2), 261–276. https://doi.org/10.17509/factum.v8i2.22156

Moraes, A., & Perkins, P. E. (2007). Women, Equity and Participatory Water Management in Brazil. International Feminist Journal of Politics, 9(4), 485–493. https://doi.org/10.1080/14616740701607986

Nesmith, A., & Smyth, N. (2015). Environmental Justice and Social Work Education: Social Workers’ Professional Perspectives. Social Work Education, 34(5), 484–501. https://doi.org/10.1080/02615479.2015.1063600

Nofrima, S., & Qodir, Z. (2021). Gerakan Sosial Baru Indonesia: Studi Gerakan Gejayan Memanggil 2019 [Indonesia’s New Social Movement: A Study of the Gejayan Memanggil Movement of 2019]. Jurnal Sosiologi Reflektif, 16(1), 185–210. https://doi.org/10.14421/jsr.v16i1.2163

Nurdin, N. (2017, December 5). Warga Kendeng Minta Gubernur Jateng Hentikan Izin Pabrik Semen di Pati [Kendeng Residents Ask the Central Java Governor to Halt the Cement Plant Permit in Pati]. Kompas.com. https://regional.kompas.com/read/2017/12/05/18145501/warga-kendeng-minta-gubernur-jateng-hentikan-izin-pabrik-semen-di-pati

Omah Kendeng. (2023). Kupatan Kendeng 2023 “Eling Ibu Bumi” [Kendeng Kupatan 2023: “Remember Mother Earth”]. Omah Kendeng. https://omahkendeng.id/kupatan-kendeng-2023-eling-ibu-bumi/

Parwito. (2015, November 17). Tolak Pabrik Semen, Ratusan Warga Pati Jalan Kaki Sejauh 69 km [Rejecting the Cement Plant, Hundreds of Pati Residents March 69 km]. Merdeka.com. https://www.merdeka.com/peristiwa/read/6945048/tolak-pabrik-semen-ratusan-warga-pati-jalan-kaki-sejauh-69-km

Pratama, A. Y. (2018). Perlawanan Politik Petani Pegunungan Kendeng Utara dalam Menolak Pembangunan Pabrik Semen di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah [The Political Resistance of North Kendeng Mountains Farmers in Rejecting Cement Plant Construction in Rembang Regency, C… [Undergraduate Thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta]. https://eprints.ums.ac.id/id/eprint/66520

Priyatna, A., Subekti, M., & Rachman, I. (2017). Ekofeminisme dan Gerakan Perempuan di Bandung [Ecofeminism and the Women’s Movement in Bandung]. Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 9(3), 439–454. https://doi.org/10.30959/patanjala.v9i3.5

Purboningsih, S. D. (2015). Gerakan Sosial Baru Perspektif Kritis: Relawan Politik dalam Pilpres 2014 di Surabaya [New Social Movements From a Critical Perspective: Political Volunteers in the 2014 Presidential Election in Surabaya]. Jurnal Review Politik, 5(1), 100–125. https://doi.org/10.15642/JRP.2015.5.1.100-125

Raharja, I. K. M., & Wibowo, P. (2021). Peran Kordinator Lingkungan dalam Upaya Meminimalisir Gangguan Keamanan dan Ketertiban di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Kerobokan [The Role of the Environmental Coordinator in Minimizing Disturbances to Security and Order at Kerobokan Class II A Corr…. Nusantara, 8(7), 408–420. https://doi.org/10.31604/jips.v8i7.2021.1946-1952

Rahmawati, R., & Firman. (2019). Reklamasi Teluk Jakarta Ditinjau dari Perspektif Ekofeminisme [The Reclamation of Jakarta Bay From an Ecofeminist Perspective]. Aristo, 7(1), 46–63. https://doi.org/10.24269/ars.v7i1.1303

Saturi, S. (2015, June 9). Suku Kamoro Tolak Pembangunan Smelter Freeport di Wilayah Adat Mereka [The Kamoro People Reject Construction of the Freeport Smelter on Their Customary Land]. Mongabay. https://mongabay.co.id/2015/06/09/suku-kamoro-tolak-pembangunan-smelter-freeport-di-wilayah-adat-mereka/

Schroeder, R., Martin, K. St., Wilson, B., & Sen, D. (2008). Third World Environmental Justice. Society & Natural Resources, 21(7), 547–555. https://doi.org/10.1080/08941920802100721

Suprijanto, A. (2017). Analisa Produk Hukum Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660.1/4 Tahun 2017 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan Wilayah Pegunungan Kendeng, dalam Kaitannya dengan Ketahanan Wilayah [Legal Analysis of Central Java Governor’s Decree No. 660.1/4 of 2017 on the Environmental Permit for Mining in the Kendeng Mountains, in Relation to Regional Resilience]. Prosiding Seminar Nasional KeIndonesiaan II Tahun 2017: Strategi Kebudayaan dan Tantangan Ketahanan Nasional Kontemporer, 92–107.

Utama, A. (2025, January 8). Mengapa Rencana Pembukaan 20 Juta Hektare Hutan untuk Lahan Pangan ‘Untungkan Korporasi dan Rugikan Warga’? – Kesaksian Orang Rimba yang Tersisih dari Hutan Leluhur [Why Does the Plan to Clear 20 Million Hectares of Forest for Food Estates “Benefit Corpo…. BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/czx594201glo

Wibisono, R. (2018, July 30). Warga Pati Pajang Spanduk Tolak Pabrik Semen [Pati Residents Display Banners Rejecting the Cement Plant]. Espos.id. https://regional.espos.id/warga-pati-pajang-spanduk-tolak-pabrik-semen-930966

Diterbitkan

2026-08-12

Cara Mengutip

Pembangunan, Hilangnya Ruang Hidup, dan Gerakan Perempuan Samin di Pegunungan Kendeng Utara, Jawa Tengah. (2026). Jurnal Bina Praja, 18(2), 285-300. https://doi.org/10.21787/jbp.18.2026.3325

Terbitan

Bagian

Artikel

Cara Mengutip

Pembangunan, Hilangnya Ruang Hidup, dan Gerakan Perempuan Samin di Pegunungan Kendeng Utara, Jawa Tengah. (2026). Jurnal Bina Praja, 18(2), 285-300. https://doi.org/10.21787/jbp.18.2026.3325