Baca Naskah Lengkap
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 17 No 3 (2025).
Negosiasi Otoritas Birokrasi dan Adat di Kabupaten Bungo, Indonesia
592 Dilihat 430 Diunduh
Saat ini, pemerintah daerah terus menghadapi gesekan antara birokrasi resmi dan adat istiadat yang mengakar kuat di komunitas mereka. Di Kabupaten Bungo, Indonesia, ketegangan ini benar-benar muncul ke permukaan setelah Peraturan Daerah No. 9 Tahun 2007 mengganti istilah “Kepala Desa” dengan gelar tradisional “Rio.” Studi ini meneliti bagaimana perubahan tersebut telah mengguncang cara para pemimpin daerah memandang diri mereka sendiri dan cara mereka beroperasi. Saya mengamati Bungo secara saksama melalui wawancara dengan 25 tokoh kunci, meneliti dokumen hukum, dan bahkan berinteraksi (secara virtual) di grup WhatsApp “Pesan Bungo” untuk melihat bagaimana keadaan berjalan sehari-hari. Pertanyaan besarnya: Bagaimana para pemimpin daerah ini menyeimbangkan tugas resmi dan peran tradisional mereka? Apa sebenarnya yang diubah oleh gelar baru ini di lapangan? Dan apa yang harus dipelajari oleh para pembuat kebijakan dari semua ini? Inilah yang saya temukan. Rio tidak hanya memilih satu sisi—mereka terus berganti peran, terkadang bertindak sesuai aturan, berpegang pada tradisi, dan seringkali bekerja di balik layar melalui jaringan informal. Mereka seperti tukang reparasi, menyusun solusi dari apa pun yang ada. Di satu sisi, menggunakan gelar Rio meningkatkan kredibilitas mereka baik di mata pemerintah maupun masyarakat setempat. Hal itu memberi mereka lebih banyak ruang untuk bermanuver dan menegosiasikan makna kepemimpinan. Tetapi ada sisi sebaliknya: hal itu juga dapat memusatkan kekuasaan di tangan beberapa orang dan mengubah tradisi menjadi sekadar alat untuk mempengaruhi. Intinya? Mengubah gelar administratif bukan hanya langkah di permukaan. Hal itu mengubah pemerintahan lokal menjadi medan pertempuran untuk kekuasaan dan makna. Jika nilai publik dan inklusivitas penting, maka tata kelola perlu tetap fleksibel dan responsif—siap beradaptasi seiring berjalannya ketegangan ini.
Administrative Identity Transformation and Hybrid Governance: Negotiating Bureaucratic and Indigenous Authority in Bungo Regency, Indonesia
These days, local governments keep running into friction between official bureaucracy and the deep-rooted customs of their communities. In Bungo Regency, Indonesia, this tension really came to the surface after Local Regulation No. 9 of 2007 swapped out the term “Village Head” for the traditional title “Rio.” This study examines how that change has shaken up how local leaders see themselves and how they operate. I took a close look at Bungo through interviews with 25 key people, combed through legal documents, and even hung out (virtually) in the “Pesan Bungo” WhatsApp group to see how things play out day to day. The big questions: How do these local leaders juggle their official duties and their traditional roles? What does this new title actually change on the ground? And what should policymakers take away from all this? Here’s what I found. The Rio isn’t just picking a side—they’re constantly switching hats, sometimes acting by the book, leaning into tradition, and often working behind the scenes through informal networks. They’re like fixers, piecing together Solutions from whatever’s at hand. On one hand, using the Rio title boosts their credibility with both the government and the local community. It gives them more room to maneuver and negotiate what leadership means. But there’s a flip side: it can also concentrate power in a few hands and turn tradition into just another tool for influence. Bottom line? Changing administrative titles isn’t just a surface-level move. It turns local government into a battleground for power and meaning. If public value and inclusivity matter, then governance needs to stay flexible and responsive—ready to adapt as these tensions play out.
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 17 No 3 (2025).
Hak Cipta (c) 2025 Penulis. Artikel ini dilisensikan di bawah CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.