Baca Naskah Lengkap
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 16 No 3 (2024).
Kolaborasi Tata Kelola Berbasis ‘Sombere’ di Kota Makassar, Indonesia
1.154 Dilihat 1.070 Diunduh
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji integrasi budaya lokal dalam kota pintar. Kebaruan penelitian ini memperkenalkan konsep Kota Pintar Terintegrasi Budaya, yang menekankan pentingnya mengintegrasikan kerangka teknologi Kota Pintar dengan nilai-nilai budaya lokal sehingga pengembangan kota pintar menjadi lebih inklusif, berkelanjutan, dan berakar pada kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Sumber data utama dalam penelitian ini diperoleh dari informan. Informan awal dipilih secara sengaja: orang-orang yang memahami masalah dalam tata kelola kolaboratif dan kota pintar. Penelitian ini menemukan bahwa komunikasi yang efektif melalui dialog tatap muka dalam perencanaan pembangunan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, yang menjadi bagian dari kebijakan pemerintah. Selain itu, membangun kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat terbukti penting dalam mengelola inisiatif Kota Pintar, terutama dalam mengembangkan infrastruktur teknologi seperti sistem pengawasan CCTV dan program revitalisasi gang wisata. Komitmen pemerintah daerah, sektor swasta, dan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahapan implementasi Kota Pintar berbasis Sombere di Makassar mencerminkan kolaborasi yang solid berdasarkan nilai-nilai budaya lokal. Keterbatasan penelitian ini menekankan pada aspek kolaborasi dan integrasi budaya dalam Smart City namun belum membahas secara mendalam aspek teknis dan ekonomi yang turut mempengaruhi keberlanjutan Smart City.
Integrating Local Culture in Smart City: ‘Sombere’ Based Governance Collaboration in Makassar City, Indonesia
This research aims to examine the integration of local culture in a smart city. The novelty of this research introduces the concept of a Culturally Integrated Smart City, which emphasizes the importance of integrating the Smart City technology framework with local cultural values so that the development of smart cities becomes more inclusive, sustainable, and rooted in local wisdom. The research used a descriptive qualitative. The main data source in this research was obtained from informants. The initial informants were selected purposefully: people who understand problems in collaborative governance and smart cities. The research found that effective communication through face-to-face dialogue in development planning provides space for the community to convey aspirations, which become part of government policy. In addition, building trust between the government and the community has proven crucial in managing Smart City initiatives, especially in developing technological infrastructure such as CCTV surveillance systems and tourist alley revitalization programs. The commitment of local governments, the private sector, and active community participation in every stage of the implementation of the Sombere-based Smart City in Makassar reflects solid collaboration based on local cultural values. The limitations of this research emphasize the aspects of collaboration and cultural integration in Smart Cities but have not discussed in depth the technical and economic aspects that also affect the sustainability of Smart City.
Isi lengkap artikel ini tersedia dalam format PDF. Versi resmi yang diterbitkan pada Vol 16 No 3 (2024).
Hak Cipta (c) 2024 Penulis. Artikel ini dilisensikan di bawah CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.