Read the Full Text
The full text of this article is available as PDF. Version of record published in Vol. 16 No. 1 (2024).
Case Study of Ikat Weaving MSMEs in Kupang City
2,107 Views 1,406 Downloads
Indonesia's creative economy has experienced notable growth, contributing Rp1,105 trillion in 2018. Among its integral components, ikat weaving plays a crucial role in sustaining production, preserving traditions, and maintaining product authenticity. The sector encourages innovation, adoption of digital technology, and benefits from government policies supporting creative industries. Despite its international recognition, traditional ikat weaving faces significant challenges for MSMEs, including capital constraints, marketing difficulties, and limited human resources. Preserving ikat weaving in Kupang City presents multifaceted challenges encompassing social, economic, and market dynamics. This qualitative research employed a case study approach to delve into these complexities. Case study research involves in-depth data collection from various sources like interviews, observations, and documents, aiming to reveal insights into real-life scenarios. The study underscores the pivotal role of Hexa Helix collaboration involving government, business, universities, NGOs, mass media, and the affected community in advancing ikat weaving. This collaborative framework promotes innovation, facilitates resource sharing, and enhances community engagement. However, challenges identified in governance and administration aspects highlight the informal nature of current cooperation efforts. Despite these challenges, the research demonstrates that three other dimensions of successful collaboration—autonomy, mutuality, and reciprocity—are effectively contributing to the development of ikat weaving MSMEs in Kupang City. This collaborative approach is pivotal in safeguarding ikat weaving as a cultural heritage while unlocking its economic potential. The findings suggest opportunities for stakeholders to enhance collaboration through more structured and formal mechanisms. By addressing governance and administrative challenges, stakeholders can better support ikat weaving MSMEs, ensuring sustainable growth and cultural preservation.
Kolaborasi Hexa Helix dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal: Studi Kasus UMKM Tenun Ikat di Kota Kupang
Ekonomi kreatif Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa, dengan kontribusi sebesar Rp1.105 triliun pada tahun 2018. Di antara komponen-komponennya yang tidak terpisahkan, tenun ikat memainkan peran penting dalam mempertahankan produksi, melestarikan tradisi, dan menjaga keaslian produk. Sektor ini mendorong inovasi, adopsi teknologi digital, dan mendapatkan manfaat dari kebijakan pemerintah yang mendukung industri kreatif. Meskipun telah diakui secara internasional, tenun ikat tradisional menghadapi tantangan yang signifikan bagi UMKM, termasuk kendala modal, kesulitan pemasaran, dan sumber daya manusia yang terbatas. Melestarikan tenun ikat di Kota Kupang menghadirkan berbagai tantangan yang mencakup dinamika sosial, ekonomi, dan pasar. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus untuk menyelidiki kompleksitas ini. Penelitian studi kasus melibatkan pengumpulan data secara mendalam dari berbagai sumber seperti wawancara, observasi, dan dokumen, yang bertujuan untuk mengungkapkan wawasan tentang skenario kehidupan nyata. Penelitian ini menggarisbawahi peran penting kolaborasi Hexa Helix yang melibatkan pemerintah, bisnis, universitas, LSM, media massa, dan masyarakat yang terkena dampak dalam memajukan tenun ikat. Kerangka kerja kolaboratif ini mendorong inovasi, memfasilitasi pembagian sumber daya, dan meningkatkan keterlibatan masyarakat. Namun, tantangan yang teridentifikasi dalam aspek tata kelola dan administrasi menyoroti sifat informal dari upaya kerja sama saat ini. Terlepas dari tantangan-tantangan ini, penelitian ini menunjukkan bahwa tiga dimensi lain dari kolaborasi yang sukses - otonomi, timbal balik, dan timbal balik - secara efektif berkontribusi pada pengembangan UMKM tenun ikat di Kota Kupang. Pendekatan kolaboratif ini sangat penting dalam menjaga tenun ikat sebagai warisan budaya sekaligus membuka potensi ekonominya. Temuan ini menunjukkan adanya peluang bagi para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kolaborasi melalui mekanisme yang lebih terstruktur dan formal. Dengan mengatasi tantangan tata kelola dan administrasi, para pemangku kepentingan dapat mendukung UMKM tenun ikat dengan lebih baik, memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan pelestarian budaya.
The full text of this article is available as PDF. Version of record published in Vol. 16 No. 1 (2024).
Copyright (c) 2024 Author(s). This article is licensed under CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.