Sistem Produksi dan Potensi Pengembangan Jagung di Kabupaten Pasaman Barat

Authors

  • Yulmar Jastra Bidang Litbang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sumatera Barat

DOI:

https://doi.org/10.21787/jbp.07.2015.271-278

Keywords:

Jagung, Produksi, Usaha Tani, Pendapatan, Maize, Production, Farming, Income

Abstract

Abstrak

Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman pangan nasional kedua setelah padi dan perannya semakin meningkat sejalan bertambahnya jumlah penduduk, usaha peternakan, dan berkembangnya industri olahan berbahan baku jagung. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan kuantitatif serta dilakukan secara bertahap yaitu: pra-study dalam rangka pengumpulan informasi tetang kondisi umum dan petani di kabupaten Pasaman Barat, desk study intensif terhadap data luasan dan perkembangan jagung hibrida serta  semua informasi yang diperoleh dari kegiatan pra-study; observasi, survey lapangan. Penelitian ini bertujuan : mengidentifikasi system produksi jagung di Pasaman Barat mengidentifikasi potensi  pengembangan areal dan analisa  usahatani jagung, menyusun Program Aksi Pengembangan jagung di Pasaman Barat. Umur petani jagung di Kabupaten Pasaman Barat antara 40-60 tahun, dengan  lama sekolah selama dari 9 tahun dan jumlah anggota keluarga petani 5 orang. Produksi jagung tertinggi di kabupaten Pasaman Barat terjadi pada tahun 2009 sebesar  364.287 ton  dengan luas panen 44.793 ha dan produktivitas 6,99 ton/ha, pada tahun 2010 terjadi penurunan produksi menjadi 220.761 ton dengan produktivitas 6,3 ton/ karena terjadinya penurunan luas panen menjadi 33.757 ha. Dan pada tahun 2011 produksi jagung kembali normal dengan produksi 286.078 ton/tahun dengan luas tanam 44.360 ha dan produktivitas 6,50 ton/ha. Potensi lahan yang dapat dimanfaatkan untuk usahatani jagung mencapai 142.850 ha yang didominasi tanah gambut dan mineral masing-masing seluas 7.550 ha dan 16.550 ha. Dari usahatani jagung dapat memberikan keuntungan sebesar Rp 8.860.000,-/ha. Bila masa pertanaman jagung 4 bulan maka pendapatan petani jagung per bulannya sebesar Rp 2.215.000,-.


Abstract

Maize ( Zea mays L. ) is the second national food crop after rice and its role is increasing in line increase of population , livestock operations , and development of raw material corn processing industry. This research is a descriptive qualitative and quantitative as well as done in stages , namely: pre -study in order neighbor information gathering and general condition of farmers in the districts of West Pasaman , intensive desk study on the extent of data and the development of hybrid corn and all information obtained from pre -study activities ; observation , field survey. This study aims to: identify systems of maize production in West Pasaman, identify potential areas of development and  analysis of maize farming, Prepare Corn Development Action Programme in West Pasaman . Age maize farmers in West Pasaman between 40-60 years old , with old school for 9 years and the number of family members of farmers 5 . The highest maize production in West Pasaman district occurred in 2009 amounted to 364 287 tonnes with  44 793 ha of harvested area and productivity of 6.99 tonnes / ha , in 2010, a decline in production to 220 761 tonnes with a productivity of 6.3 tons /ha due to a decline in harvested area into 33 757 ha . And in 2011 the production of corn production back to normal by 286 078 tons / year with  44 360 ha of harvested area and productivity of 6.50 tonnes / ha . Potential land that can be used to achieve the 142 850 ha of maize farming dominated peat and mineral soil of each area of 7,550 ha and 16,550 ha . Of corn farming can provide a gain of Rp 8,860,000 , -/ha . When the period of 4 months of the corn crop corn farmer income per month is Rp 2.215.00,-

Downloads

Download data is not yet available.

Metrics

Metrics Loading ...

References

Bappeda Sumbar. 2011a. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Sumatera Barat tahun 2010-2015. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Barat.

Bappeda Sumbar. 2011b. Pengembangan Agribisnis Jagung dalam Rencana Tindak/Action Plan 5 Industri Unggulan Sumatera Barat. Bappeda Sumatera Barat.

Bappeda Pasaman Barat, 2012. Profil Daerah Kabupaten Pasaman Barat. Bappeda Kabupaten Pasaman Barat.

Dipertahor Sumbar. 2006. Rencana Strategis Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sumatera Barat Tahun 2006-2010. Dipertahor Sumbar.

Dipertahor Sumbar. 2009. Sasaran produksi bidang pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sumatera Barat Tahun 2009.

Dipertahor Sumbar. Padang Dismpaikan dalam pertemuan peneliti dan penyuluh di BPTP Sumbar pada tanggal 29 September 2009

Irawan. B. 2006. Pelaksanaan PRA dan Rancang Bangun Agibisnis Materi disampaikan pada Workshop Prima Tani di Ciloto tanggal 19-22 September 2006. BBP2TP. Bogor.

Masri S. dan Sofian Effendi. 1982. Metode Penelitian Survai. LP3ES. Jakarta.

Mawardi,E., Jhoniwar, dan Noven. 2009. Kajian Peningkatan Produksi dan Pemasaran Jagung Di Sumatera Barat. Laporan Hasil Penelitian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumatera Barat Tahun 2009.

Yulmar Jastra, 2012. Pengembangan jagung hibrida untuk peningkatan pendapatan petani di Pasaman Barat. Jurnal Pembangunan Manusia (Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi) Vol. 6 No. 1, April 2012 hal. 64-73. Balitbangnovda Provinsi Sumatera Selatan.

Sukartawi; A. Soeharjo; John L. Dillon dan J. Brian Hardaker. 1984. Ilmu usahatani dan penelitian untuk pengembangan petani kecil. UI. Jakarta.

Downloads

Published

2015-10-01

How to Cite

Jastra, Y. (2015). Sistem Produksi dan Potensi Pengembangan Jagung di Kabupaten Pasaman Barat. Jurnal Bina Praja: Journal of Home Affairs Governance, 7(3), 271-278. https://doi.org/10.21787/jbp.07.2015.271-278

Issue

Section

Articles