Read the Full Text
The full text of this article is available as PDF. Version of record published in Vol. 18 No. 2 (2026).
Startup Ecosystem Governance in Jakarta–Berlin Sister City Paradiplomacy
517 Views 237 Downloads
This study identifies the contribution of the Future City Hub (FCH) to the Jakarta–Berlin sister city partnership, evaluates its role in Jakarta’s startup ecosystem, and proposes a model of sustainable governance. Using a descriptive qualitative design, we conducted a content analysis of primary, secondary, and tertiary sources. The findings suggest that globalization has shifted the dynamics of international relations, allowing local governments to act in the international arena through paradiplomacy. The Jakarta–Berlin partnership is one such arrangement, operating as an urban living lab that brings together academia, government, industry, and the public to foster innovation. Although the ecosystem surrounding the FCH has faced challenges since European Union funding ended, its host institution, the Jakarta Smart City Management Unit, has been designated a technical implementation unit operating under the regional public service agency financial management pattern, an arrangement that affords greater flexibility in financial management. The findings further indicate that the FCH has supported improvements in the quality of Jakarta’s startups by facilitating knowledge and technology transfer from Berlin. Through this model of paradiplomacy, the FCH may offer a reference point for other cities pursuing international collaboration to drive innovation in support of sustainable regional development. The study is intended to contribute to the development of policies that sustain the startup ecosystem in Jakarta.
Menjaga Keberlanjutan Future City Hub: Tata Kelola Ekosistem Startup dalam Kerangka Paradiplomasi Kota Kembar Jakarta–Berlin
Studi ini mengidentifikasi kontribusi Future City Hub (FCH) terhadap kemitraan kota kembar Jakarta–Berlin, mengevaluasi perannya dalam ekosistem startup Jakarta, serta mengusulkan model tata kelola yang berkelanjutan. Dengan menggunakan desain kualitatif deskriptif, kami melakukan analisis konten terhadap sumber-sumber primer, sekunder, dan tersier. Temuan studi menunjukkan bahwa globalisasi telah mengubah dinamika hubungan internasional, sehingga memungkinkan pemerintah daerah untuk berperan di kancah internasional melalui paradiplomasi. Kemitraan Jakarta–Berlin merupakan salah satu bentuk kerja sama tersebut, yang beroperasi sebagai laboratorium hidup perkotaan (urban living lab) yang mempertemukan akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat untuk mendorong inovasi. Meskipun ekosistem di sekitar FCH menghadapi tantangan sejak berakhirnya pendanaan dari Uni Eropa, lembaga induknya—Unit Pengelola Jakarta Smart City—telah ditetapkan sebagai unit pelaksana teknis yang beroperasi dengan pola pengelolaan keuangan badan layanan umum daerah; sebuah pengaturan yang memberikan fleksibilitas lebih besar dalam pengelolaan keuangan. Temuan lebih lanjut menunjukkan bahwa FCH telah mendukung peningkatan kualitas startup di Jakarta dengan memfasilitasi transfer pengetahuan dan teknologi dari Berlin. Melalui model paradiplomasi ini, FCH dapat menjadi acuan bagi kota-kota lain yang menjajaki kerja sama internasional untuk mendorong inovasi demi mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. Studi ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan kebijakan yang menjaga keberlanjutan ekosistem startup di Jakarta.
The full text of this article is available as PDF. Version of record published in Vol. 18 No. 2 (2026).
Copyright (c) 2026 Author(s). This article is licensed under CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.