Read the Full Text
The full text of this article is available as PDF. Version of record published in Vol. 16 No. 3 (2024).
A Case Study of 9 Archipelago Provinces in Indonesia
3,030 Views 685 Downloads
As the world’s largest archipelagic country, Indonesia faces unique challenges in digital transformation, particularly regarding digital disparities across its nine archipelagic provinces. This study explores how Indonesia’s archipelagic characteristics can be leveraged to bridge digital gaps and achieve inclusive digital transformation. Using a qualitative-exploratory approach with thematic analysis of secondary data, the research develops an archipelagic-based digital transformation framework. The findings reveal that infrastructure limitations, low digital literacy, and fragmented geography drive significant digital disparities. The “Hub and Spoke” model effectively addresses these challenges, with well-connected digital hubs serving as knowledge and support centers for surrounding islands. The research findings indicate that an archipelago-based approach, combining top-down and bottom-up elements, is most effective for implementing digital transformation. In conclusion, successful digital transformation in Indonesia requires a strategy that considers the geographic characteristics of the archipelago, supported by comprehensive government policies, adequate infrastructure, and multi-stakeholder collaboration. Key recommendations include increasing investment in telecommunications infrastructure in the 3T (frontier and remote) regions, developing digital literacy based on local characteristics, and strengthening dodeca-helix partnerships for sustainable digital transformation implementation.
Strategi Inklusif untuk Menjembatani Kesenjangan Digital: Studi Kasus 9 Provinsi Kepulauan di Indonesia
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan unik dalam transformasi digital, terutama terkait disparitas digital di sembilan provinsi kepulauannya. Studi ini mengeksplorasi bagaimana karakteristik kepulauan Indonesia dapat dimanfaatkan untuk menjembatani kesenjangan digital dan mencapai transformasi digital yang inklusif. Menggunakan pendekatan kualitatif-eksploratori dengan analisis tematik data sekunder, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja transformasi digital berbasis kepulauan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa keterbatasan infrastruktur, literasi digital yang rendah, dan geografi yang terfragmentasi mendorong disparitas digital yang signifikan. Model "Hub and Spoke" secara efektif mengatasi tantangan ini, dengan hub digital yang terhubung dengan baik berfungsi sebagai pusat pengetahuan dan dukungan bagi pulau-pulau di sekitarnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kepulauan, yang menggabungkan elemen top-down dan bottom-up, paling efektif untuk menerapkan transformasi digital. Kesimpulannya, transformasi digital yang sukses di Indonesia memerlukan strategi yang mempertimbangkan karakteristik geografis kepulauan, didukung oleh kebijakan pemerintah yang komprehensif, infrastruktur yang memadai, dan kolaborasi multi-pemangku kepentingan. Rekomendasi utama meliputi peningkatan investasi dalam infrastruktur telekomunikasi di wilayah 3T (terpencil dan terdepan), mengembangkan literasi digital berdasarkan karakteristik lokal, dan memperkuat kemitraan dodeca-helix untuk implementasi transformasi digital berkelanjutan.
The full text of this article is available as PDF. Version of record published in Vol. 16 No. 3 (2024).
Copyright (c) 2024 Author(s). This article is licensed under CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.