Read the Full Text
The full text of this article is available as PDF. Version of record published in Vol. 16 No. 2 (2024).
1,040 Views 699 Downloads
The Indonesian government aims for an ‘Indonesia Emas 2045,’ but child malnutrition remains a major challenge. One important factor that influences malnutrition is parental education level. Previous studies have shown that children’s food consumption is influenced by parental knowledge and education and various interrelated multidimensional factors. This study aims to assess the influence of parental education on improving child nutrition in Indonesia, focusing on developing a model for infants aged 6 to 24 months receiving nutritious complementary foods. The method used in this study was a review of relevant literature. Results show that parental education has a significant influence on increasing the number of infants receiving nutritious complementary foods. In addition, the change in the number of infants consuming nutritious complementary foods is also influenced by several control variables, such as parents’ access to the internet, the impact of smoking among housewives, PKH assistance, parents’ employment status, area of residence, and per capita expenditure. However, this study has limitations as it does not cover the quality and quantity of food consumed by infants, does not consider local cultural influences due to data limitations, and primarily focuses on socioeconomic aspects. Thus, parental education not only improves their access to quality nutritional information but also enriches their knowledge and raises awareness about the importance of nutrition. All these factors cumulatively contribute to improved nutritional intake for children, positively impacting their long-term health.
Orangtua yang Lebih Cerdas, Nutrisi Anak yang Lebih Baik?
Pemerintah Indonesia menargetkan ‘Indonesia Emas 2045,’ tetapi kekurangan gizi anak masih menjadi tantangan utama. Salah satu faktor penting yang memengaruhi kekurangan gizi adalah tingkat pendidikan orang tua. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa konsumsi makanan anak dipengaruhi oleh pengetahuan dan pendidikan orang tua dan berbagai faktor multidimensi yang saling terkait. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pendidikan orang tua terhadap peningkatan gizi anak di Indonesia, dengan fokus pada pengembangan model untuk bayi berusia 6 hingga 24 bulan yang menerima makanan pendamping ASI yang bergizi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah telaah pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan orang tua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan jumlah bayi yang menerima makanan pendamping ASI yang bergizi. Selain itu, perubahan jumlah bayi yang mengonsumsi makanan pendamping ASI yang bergizi juga dipengaruhi oleh beberapa variabel kontrol, seperti akses orang tua terhadap internet, dampak merokok pada ibu rumah tangga, bantuan PKH, status pekerjaan orang tua, wilayah tempat tinggal, dan pengeluaran per kapita. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan karena tidak mencakup kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh bayi, tidak mempertimbangkan pengaruh budaya setempat karena keterbatasan data, dan terutama berfokus pada aspek sosial ekonomi. Dengan demikian, pendidikan orang tua tidak hanya meningkatkan akses mereka terhadap informasi gizi yang berkualitas tetapi juga memperkaya pengetahuan mereka dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya gizi. Semua faktor ini secara kumulatif berkontribusi pada peningkatan asupan gizi untuk anak-anak, yang berdampak positif pada kesehatan jangka panjang mereka.
The full text of this article is available as PDF. Version of record published in Vol. 16 No. 2 (2024).
Copyright (c) 2024 Author(s). This article is licensed under CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.