Read the Full Text
The full text of this article is available as PDF. Version of record published in Vol. 16 No. 3 (2024).
The Triple Bottom Line Concept Approach and Sustainable Evaluation
1,163 Views 962 Downloads
Sustainability of performance target achievement. While quantitative target achievement has reached an ideal state, it is often accompanied by a lack of sustainability as a continuous cycle. This cycle should be established from the inception of regional innovations, preventing them from becoming a burden on the government due to the utilization of various resources, including budget, time, and innovation actors. This research employs a qualitative approach with literature review data analysis to explore research perspectives and establish a framework aligned with the research subject. This approach facilitates developing or deepening theories and insights into the research subject. Previous research has focused on applying sustainability concepts within companies or corporations to enhance economic growth (revenue), social responsibility (community), and environmental sustainability. This research formulates a conceptual design for a sustainability assessment standard using empirically tested indicators for local governments. The concept utilizes the triple bottom line (TBL) approach, encompassing three dimensions: prosperity, people, and planet. These three dimensions serve as the focal points of intervention within the sustainability framework of this concept. The concept evaluates the potential for developing and continuing existing practices or, alternatively, identifies opportunities for cessation and replacement with more effective and efficient implementation methods through economic, social, and environmental dimensions. This research successfully develops an evaluation matrix for assessing regional innovation and establishes indicators that can be used as measurement tools within local government organizational units at smaller scales. However, the research is limited in its ability to generalize sustainability from a single framework or concept to diverse concepts tailored to the specific conditions of individual local governments. Time and methodological constraints also limit the scope of the research, leaving room for further refinement and expansion in future studies.
Merancang Konsep Inovasi Berkelanjutan Daerah: Pendekatan Konsep Triple Bottom Line dan Evaluasi Berkelanjutan
Keberlanjutan pencapaian target kinerja. Meskipun pencapaian target kuantitatif telah mencapai kondisi ideal, namun sering kali disertai dengan kurangnya keberlanjutan sebagai siklus yang berkelanjutan. Siklus ini harus ditetapkan sejak awal inovasi daerah, mencegahnya menjadi beban pemerintah karena pemanfaatan berbagai sumber daya, termasuk anggaran, waktu, dan pelaku inovasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis data tinjauan pustaka untuk mengeksplorasi perspektif penelitian dan membangun kerangka kerja yang selaras dengan subjek penelitian. Pendekatan ini memfasilitasi pengembangan atau pendalaman teori dan wawasan tentang subjek penelitian. Penelitian sebelumnya berfokus pada penerapan konsep keberlanjutan dalam perusahaan atau korporasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi (pendapatan), tanggung jawab sosial (masyarakat), dan keberlanjutan lingkungan. Penelitian ini merumuskan desain konseptual untuk standar penilaian keberlanjutan menggunakan indikator yang diuji secara empiris untuk pemerintah daerah. Konsep ini menggunakan pendekatan triple bottom line (TBL), yang mencakup tiga dimensi: kemakmuran, manusia, dan planet. Ketiga dimensi ini berfungsi sebagai titik fokus intervensi dalam kerangka keberlanjutan konsep ini. Konsep ini mengevaluasi potensi untuk mengembangkan dan melanjutkan praktik yang ada atau, sebagai alternatif, mengidentifikasi peluang untuk penghentian dan penggantian dengan metode implementasi yang lebih efektif dan efisien melalui dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian ini berhasil mengembangkan matriks evaluasi untuk menilai inovasi regional dan menetapkan indikator yang dapat digunakan sebagai alat ukur dalam unit organisasi pemerintah daerah pada skala yang lebih kecil. Namun, penelitian ini terbatas dalam kemampuannya untuk menggeneralisasi keberlanjutan dari satu kerangka kerja atau konsep ke berbagai konsep yang disesuaikan dengan kondisi khusus masing-masing pemerintah daerah. Kendala waktu dan metodologi juga membatasi ruang lingkup penelitian, sehingga masih ada ruang untuk penyempurnaan dan perluasan lebih lanjut dalam penelitian mendatang.
The full text of this article is available as PDF. Version of record published in Vol. 16 No. 3 (2024).
Copyright (c) 2024 Author(s). This article is licensed under CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.